Negeri Para Bedebah, Menunggu Kebangkitan Renaissance Kedua

"Dibiarkan tidaklah mungkin sebab bertentangan dengan nurani, dilawan tidak terlawan..setidaknya sampai hari ini". 

Apakah tidak ada orang baik??, Ada. Apakah tidak ada orang yang punya fikiran dan akal sehat?, Ada. Adaa, ada para guru dan dosen yang ikhlas mendidik, ada orangtua yang amanah, ada ulama yang menangis dalam tahajjudnya ditengah malam. Tapi jumlah mereka tak banyak, dan mereka dihapus dalam ingatan secepat seperti seorang anak SD yang sungguh senang hati ketika diberi uang jajan lalu dia berlari mengejar penjual es krim dan lupa mengucapkan terimakasih pada ibunya tanpa menoleh lagi kebelakang. 

Dalam birokrasi terkenal sebuah ungkapan keramat, yaitu "idealisme tak diperlukan, patuhilah seruan (perintah, peraturan, kebijakan) itu tanpa berkomentar". Seolah terhadap siapa saja yang melanggar baginya ialah kutukan bahwa dia dibenci, dijauhi, dan disingkirkan sebab dianggap telah melakukan perbuatan teramat tercela mengundang murka Tuhannya. 

Ya, para bedebah. Dia ada dimana-mana, dimana rakyat mengucurkan keringat (APBN, saya lebih suka menyebutnya APBR/Anggaran Pendapatan dan Belanja Rakyat) untuk keperluannya disitu ada bedebah. Dia ada di partai-partai, dia ada di lembaga-lembaga. Kapal bermuatan hampir 260 juta jiwa dikendalikan dibawanya menuju badai berkecamuk. Beberapa tahun belakangan ini gerakan perlawanan intelektual menunjukkan kebangkitannya seperti negeri yang telah lama berada dalam the dark age (zaman kegelapan) dan kini sejarah telah membuka tirai penanda dimulainya periode aufklarung untuk kedua kalinya sejak aufklarung dibuka pada periode pertama di Italia dahulu lalu menyebar ke Jerman, Inggris, Amerika dan Eropa secara keseluruhan. 

The dark age telah menjadikan manusia makhluk setengah hidup. Dia hidup tapi sisi mati juga bernaung dalam dirinya, yaitu akal yang tidak diizinkan untuk berfikir. Ketika otoritas gereja membawa pengaruh pendangkalan kemampuan berfikir, setiap fikiran yang diucapkan dan ternyata itu bertentangan dengan keyakinan gereja maka dianggap sebagai suatu hal yang tercela. 

Seorang pemikir mengemukakan pikirannya bahwa bumi itu bulat, sedang menurut pendapat gereja bumi itu datar. Maka si pemikir dijatuhi hukuman mati karena mengucapkan fikirannya itu. Zaman dimana pendapat dan keyakinan gereja harus dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang harus diterima tanpa boleh berkomentar dan mengajukan kebenaran lain. Hanya boleh ada satu kebenaran, permutlakannya dirasakan memenjarakan kebebasan berfikir orang-orang berjiwa renaissance (menginginkan pencerahan) waktu itu. 

Sehingga ilmu pengetahuan sempat stagnan, tidak berkembang sebab rasa keingintahuan tidak dibiarkan menebal sehingga keberadaannya dianggap adalah dosa yang tidak boleh ada pada diri setiap manusia, dan orang yang berfikir dianggap sebagai penyakit menular yang mengancam kehidupan. Baru pada abad ke-14 sampai abad ke-17 dimulai dari Italia munculnya gerakan renaissance (pencerahan) menawarkan ide aufklarung (pembaharuan) yang tidak siapapun juga dapat menghentikannya bak air bah tumpah meluluh lantakkan penjara-penjara intelektual the dark age. 

Masa itu di Eropa seakan manusia terlahir kembali sebagai manusia yang benar-benar hidup seutuhnya lengkap dengan akal untuk mengucapkan fikiran dan akal sehat menuntun menuju ketengah peradaban baru dalam sejarah manusia. Setelah lama terkungkung dalam penjara the dark age, manusia seperti baru pertama kali ia membuka pintu untuk pergi berjalan-jalan keluar rumah.

Kalau dahulu otoritas gereja mengekang dan memenjarakan pikiran orang, tapi sekarang di negeri ini otoritas penguasa berupaya gencar memenjarakan pikiran yang mengucapkan akal sehat. Sebab akal sehat itu dianggap dosa dan orang yang berfikir dianggap sebagai penyakit menular yang mematikan. Memang tidak sepenuhnya penguasa berhasil mengembalikan the dark age, bahkan ditengah jalan ide renaissance telah menguat untuk merobohkan the dark age. Tarik menarik kedua ide ini masih berlangsung seraya menunggu sejarah menentukan pilihannya ide yang manakah mesti dimenangkan dan yang mana harus dibenamkan.

Dahulu the dark age diperankan oleh petinggi gereja yang berpemikiran sempit, kolot, ortodoks dan semacamnya. Hari ini the dark age di negeri ini diperankan oleh penguasa (dalam jabatan formal kenegaraan) dan elit politik yang berpemikiran sempit, kolot dan ortodoks. Meski ide renaissance di negeri ini telah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dan penguatan, tetapi masih belum sekuat the dark age. 

Kita selama ini telah kehilangan orang-orang terbaik, sebenarnya mereka tidak hilang tapi mereka sengaja dihilangkan dalam sejarah. Mereka yang masih waras terseok-seok dipinggirkan dari penglihatan publik. Kewarasan itulah, atau akal sehat itulah yang sangat mahal dan langka hari ini. Maka naiklah ke atas mimbar, di panggung-panggung publik orang dungu yang tidak mengerti apapun. Mereka tampil meyakinkan berebut simpati publik. 

Tatkala mereka mendapatkannya maka berkuasalah arogansi, kediktatoran dan akal yang sakit bahkan manusia kurang akal.Jumlah mereka yang kurang akal atau menderita akal yang sakit ini sangatlah banyak, terlampau banyak untuk dihitung. Ia seperti angin ada dimana-mana melingkupi sendi-sendi kehidupan. Seraya terus memperjuangkan akal sehat, kita berharap semoga the dark age di negeri ini tidak berlama-lama. Akal sehat tidak boleh mengalah, yang waras tidak boleh mengalah terhadap akal yang sakit dan manusia kurang akal.

Negeri Para Bedebah, Menunggu Kebangkitan Renaissance Kedua