Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!

Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum
Kemelut pertengkaran kita dalam bidang hukum termasuk dalam penegakan hukum tiada lain mengharuskan adanya upaya nyata yang berani dan radikal untuk membenahi semua kebobrokan yang bertahan selama ini. Tindakan ini disadari memang merupakan hal yang berbahaya karena itu tidak tertutup kemungkinan akan jatuhnya korban, sekaligus ide ini adalah misi pengabdian dan pengorbanan kepada nusa dan bangsa. 

Sebelum diketengahkan bagaimana revolusi itu berjalan dan sasaran apa yang hendak dicapai, misi ini berbahaya. Mengapa dikatakan demikian, sebab akan membuat negeri ini berguncang hebat menghadapi orang-orang yang selama ini telah terlanjur merasa nyaman, aman dan tentram dalam sistem dan kondisi hukum yang buruk. Musuh-musuh bangsa dan negara akan keluar melakukan serangan balasan yang mengancam nyawa dan kehormatan seseorang. 

Para mafia, bibit-bibit koruptor yang belum tersemai dan tumbuh menjadi koruptor, para elit bermental tamak dan bekepribadian rusak, investor asing yang selama ini merasa memiliki kekayaan bumi negeri ini, terusiknya negara-negara barat penjajah kekayaan bumi negeri ini, orang-orang sekuler-liberal-komunis mereka akan keluar sarang dan masuk mengacak-mengacak arena pertandingan hidup mati sampai titik darah penghabisan. Sebagian mereka memantau disuatu tempat sambil menunggu momen tepuk tangan dan tertawa lepas menikmati kekalahan jiwa-jiwa revolusioner yang berani. 

Sebetulnya para mafia hukum, dan orang-orang yang menurut penilaian dan keyakinan publik adalah perusak bangsa itu telah sejak lama melakukan perlawanan dan menyatakan perang, walaupun kebanyakan sampai saat ini masih mengambil bentuk perang dingin agar tidak terlalu kentara dalam penglihatan orang. Sering kita dengar dan saksikan di media, jika si A keras mengkritik soal korupsi maka tak lama setelahnya diapun menjadi pasien lembaga penegak hukum. Andaipun tidak terbukti, tetapi proses peradilan terutama pemeriksaannya di lembaga penegak hukum sudah cukup untuk merobohkan kehormatan dan nama baiknya dimata publik. Pengrusakan kehormatan dan nama baik itu lebih menyakitkan daripada  seseorang hanya sekedar menjalani hukuman di penjara. 

Perlawanan para mafia tidak tanggung-tanggung, misalnya tokoh-tokoh petinggi penegak hukum dalam generasi yang berbeda seperti mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibid Samad Rianto, Chandra.M Hamzah, Antasari Azhar, Bambang Widjayanto, Abraham Samad termasuk pula Jenderal Polisi Susno Duadji sulit rasanya dipercaya jika mereka ini bukan korban dari kebringasan para mafia hukum pendamba negara hukum porak-poranda. Semakin barani aparat penegak hukum yang masih waras dan sehat akalnya untuk memberangus di muka bumi negeri ini koruptor maka perlawananpun semakin kuat dan berat. 

Terbukti dengan terdepaknya aparat penegak hukum itu dari jabatannya yang terhormat lagi mulia. Ini semua menandakan bahwa pekerjaan menegakkan hukum ini sangat beresiko. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana resiko itu telah mengajarkan kepada kita bahwa keseriusan dalam mengurus penegakan hukum itu telah membuat rusak bahkan mungkin buta sebelah mata Novel Baswedan, setelah ia disiram air keras dari antek-antek penjahat hukum di republik ini. Tidak hanya teror mental tapi juga teror fisik membuatnya kehilangan jabatan sebagai komisoner Komisi Pemberntasan Korupsi tapi juga menyisakan kecacatan pada dirinya. 

Belakangan ini ketika tulisan ini ditulis (04 Februari 2019) telah kita terima berita duka bahwa dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dianiaya dan mengalami luka cukup parah dalam menjalankan tugasnya yang suci itu. Entah berapa banyak lagi kasus  seperti ini akan terulang seakan para mafia tidak kenal lelah dan bahkan menikmati perburuannya oleh aparat penegak hukum. Semua kasus seperti ini semisal kita ambil kasus Jenderal Polisi Susno Duadji terhadap keberaniannya membongkar korupsi simulator Surat Izin Mengemudi di institusinya dan Novel Baswedan sebagai komisioner KPK yang telah menunjukkan integritasnya dan keberaniannya menegakkan hukum sampai sekarang tidak jelas kasusnya. 

Lalu dimana peran Presiden?, sampai kinipun tidak kita lihat ada langkah nyata yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi eksekutif itu. Selain karena sebagian elit yang tidak tau malu telah saling melindungi satu dengan yang lain melalui kelembutan cara bicara dalam meyakinkan Presiden bahwa tidak terjadi apa-apa, dan sekiranya ada masalah Presiden tidak perlu turun tangan biarlah aparat penegak hukum yang melaksanakan tugasnya sesuai amanat undang-undang. Juga disebabkan bahwa para mafia telah merajalela dalam istana yang telah bersayap-sayap lebar menjalar kemana-mana kesetiap sudut ruangan, mengendalikan ruang percakapan publik di media pertelevisian, di media sosial dan juga berhasil mengambil peranan terhadap kebijakan yang diambil oleh pejabat negara. 

Ketika misalnya sedang hangat-hangatnya pembicaraan publik bahwa ada keteribatan dan peran aktif Wiranto dalam tragedi berdarah pelanggaran HAM pada 1998, lalu tiba-tiba saja Wiranto telah diangkat menjadi Menkopolhukam. Seakan berlindung dibawah kekuasaan dengan menjadi penguasa dibawah Presiden sehingga posisinya seakan tidak lagi tersentuh oleh aparat penegak hukum. Ini sangat menggelikan. 

Seakan sejarah sedang bercakap-cakap kepada kita dengan nada cemas dan penuh prasangka, "tugas membenahi hukum dan penegakan hukum di negeri ini sangatlah berat dan merupakan petualangan yang berbahaya, kehati-hatian tidak berguna, hanya iman kepada tuhan serta perbanyak ibadah yang harus dilakukan supaya kelak tiba masanya peluru menembus kepala syahidlah hendaknya yaitu meninggalkan dunia yang keji penuh dosa ini dengan sebaik-baik kematian menghadap Tuhan yang maha esa".

*Menuntaskan Tugas Mulia

"Tugas mulia tidak mudah, jika mudah bukanlah sepatutnya ia sebagai tugas mulia".

Sebagaimana gencarnya para maling uang rakyat dan para mafia menggasak kekayaan bumi dan bangga merampas kebahagiaan dari raut wajah rakyat, begitupun semangat penegakan hukum tetap menyala dan berkobar hebat dari para penegak hukum moralis yaitu orang-orang waras dan berakal sehat tidak akan menyerah kalah dalam memerangi para penghianat dan penjajah negeri. Langkah yang kita lakukan dalam perang dengan para mafia selama ini baru dalam tataran penegak hukum, walaupun telah berjatuhan korban tetapi kita butuh perlawanan yang lebih hebat dan perkasa daripada yang sudah-sudah untuk mengakhiri semua ini. 

Kali ini perlu ada sikap tegas dan keras dari seorang kepala negara untuk mengatasi kekacauan berlarut-larut selama ini. Seorang Presiden yang gagah perkasa lagi berani berhadapan di medan laga bertarung habis-habisan dengan para munafik, penghianat dan penjajah negeri ini. Sebagai sebuah negara, kita tidak sendirian dalam mengambil sikap berani itu. Kita masih ingat bagaimana mantan pemimpin Kuba Fidel Alejandro Castro Ruz dengan gagah berani menantang hegemoni barat yang ingin merampas kesejahteraan negerinya, yang bernafsu merampas senyum bahagia di wajah rakyatnya, sejarah telah mencatat untuk keberanian dan kelancangan Fidel Castro ia mengalami lebih dari 500 kali percobaan pembunuhan. 

Atau bagaimana pahit getirnya perjuangan mantan Presiden Venezuela Hugo Chaves Friaz harus merelakan nyawanya sebagai imbalan atas perjuangannya mengangkat wibawa negerinya dan mempertahankan senyum penuh kebahagiaan di wajah rakyatnya. Hingga kematiannya di dengar rakyatnya, hujan air mata turun deras seolah langit turut diliputi duka mendalam kepergian sang pahlawan bangsa dambaan jutaan manusia menghadap tuhannya. Meski Amerika berkali kali menyebarkan propaganda yang berisi fitnah beracun berharap agar sang pemimpin dibenci rakyatnya sendiri, hingga terbayang ia akan di desak oleh rakyatnya melepaskan jabatannya, tapi rupanya rakyat telah teramat mencintainya sehingga tidak seorangpun mampu memisahkan cinta mendalam yang  terbangun antara rakyat dan pemimpinnya itu. Demikianlah Chaves menghembuskan nafas terakhirnya ditangan kasar antek-antek Amerika laknatullah.

*Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!

Perjuangan yang tidak berkesudahan ini sudah saatnya diakhiri. Kita cuma butuh dua hal, yaitu pertama, Kepala Negara yang berani dan siap menghadapi semua resiko. Dan yang kedua, mengorganisir sekuat mungkin basis pergerakan atau mengkonsolidasikan kekuatan dari orang-orang yang terpercaya, cerdas, serius dan berani serta siap menghadapi perang melawan para mafia hukum yang bersarang dibanyak institusi di negeri ini. 

Setelah ini, maka revolusi undang-undang secara radikal menuju pembaharuan konkret yang berkeadilan yang selama ini masih menggantung di langit-langit sebagai sebuah utopia. Tampung semua aspirasi rakyat, lalu libatkan para ahli merumuskannya dan akhiri dengan bergerak cepat tanpa tawar menawar. Revolusi undang-undang segala bidang kehidupan terutama di bidang penegakan hukum, politik, sosial, budaya, agama, pendidikan dan kesejahteraan. 

Revolusi ini juga berdampak pada penyegaran fungsi lembaga-lembaga negara menjadi lebih stabil dan kuat baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Setelah itu revolusi birokrasi secara besar-besaran, buang orang-orang yang tidak patut apalagi mereka sampai berkuasa dalam suatu birokrasi itu. Sebab keberadaan mereka hanya merusak, tidak berfaedah. Revolusi undang-undang dan revolusi birokrasi dilakukan dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang hidup ditengah masyarakat di daerah-daerah. 

Setelah itu pula ambil kebijakan nyata dan tegas lakukan revolusi perekonomian dan pengelolaan sumber daya alam. Indonesia harus bebas hutang, harus berhenti di dikte asing terutama Amerika dan antek-anteknya yang telah sejak lama menghisap kekayaan bumi ini dengan brutal. Negeri ini harus menjadi negeri swasembada pangan, harus menjadi negeri produsen minyak, harus menjadi negara pengekspor pangan dan hasil kekayaan alam bukan negara hobi impor. 

Dan terakhir, setelah ekonomi kita kuat, politik dan kedaulatan kita tidak bisa di dikte, setelah kita mampu berdiri diatas kaki sendiri dirumah milik kita, maka terakhir kita harus tegas dalam diplomasi apapun khususnya yang menyangkut perdamaian dan pelanggaran hak asasi manusia. Kita tidak boleh lemah dan menundukkan kepala kepada Myanmar, Israel, China, Amerika. Mereka telah berkontribusi besar dalam menciptakan kerusuhan internasional, pembiaran pelanggaran hak asasi manusia, telah berperan besar menjadikan banyak negara berketergantungan kepada hutang. 

Berat bukan semua tugas tugas ini??, semua ini tidak ubahnya utopia. Entah utopia itu abadi atau tidak di negeri ini. Tapi untuk melakukan semua itu kita dapat banyak belajar dari Venezuela, Kuba, Turki yang telah meruntuhkan keramat pesimisme itu. Juga Brunei Darussalam bahkan Malaysia sekalipun yang sedang berjuang untuk kedaulatannya kita dapat mengambil pelajaran. Jadi Revolusi Hukum, Sekali lagi Revolusi Hukum!!! Hanya itu cara membenahi negeri yang telah usang oleh tangan-tangan jahil tidak bertanggung jawab.

Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!