Generasi Penghianat Perjuangan

 
 Generasi Penghianat Perjuangan
 
Kacau sekali penyelenggaraan negara ini sebab kekuasaan dipegang oleh orang-orang arogan yang sangat curang dalam memperoleh jabatan serta sangat takut kehilangan jabatan. Jabatan dijadikan lumbung kekayaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta. Mereka yang seperti ini sebenarnya adalah maling yang paling nyata, musuh bangsa yang harus diperangi. Sebagian dari para pemuja kekuasaan memilih jalan menjadi penjilat yang bertugas menggembirakan penguasa, mereka menjadi penggembira untuk dapat masuk dalam lingkaran kekuasaan dan untuk memperoleh kekuasaan.

Sementara itu para idealis sejati tokoh-tokoh intelektual dimanapun selalu dikucilkan bahkan tidak diberi ruang untuk berbuat banyak menyumbangkan ide-ide pembaharuan. Mereka didesak ketepi oleh para penjilat dan penyembah kekuasaan sewenang-wenang. Padahal mereka yang dahulu berstatus mahasiswa itu di kampus dia tidak di didik untuk menjadi para penjilat dan tidak dilatih untuk mengadakan ritual penyembahan kepada penguasa tirani yang menindas dan menjadi perampok.
Kisah-kisah heroik dan dramatis tokoh-tokoh perjuangan masa lampau kini tinggal menjadi sebuah dongeng atau legenda belaka, bahkan tragisnya sewaktu-waktu sekedar untuk diperlombakan diatas pentas sebagai hiburan. Seakan tidak berbekas di hati generasi yang lahir belakangan di masa sekarang. Segalanya kini hanya tinggal simbol bahwa dulu bangsa ini pernah bergerilya hebat dengan Belanda dan Jepang, dan perang dimenangkan oleh pejuang kemerdekaan. 
Beratus-ratus ribu pribumi menjadi korban perbudakan dan mati ditembaki dengan brutal oleh serdadu kolonial, darah tumpah dimana-mana. Perjuangan itu dimata kolonial disebut gerakan pemberontakan, ekstrimis dan sikap anti terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sejarah perjuangan kemerdekaan mestinya menjadi renungan mendalam bagi generasi hari ini. Andailah perjuangan itu gagal maka sampai hari ini mungkin kita masih berada dalam wilayah kekuasaan kolonial yang diskriminatif, kejam dan sewenang-wenang. 
Tapi ternyata tuhan menyatakan keberpihakan kepada perjuangan generasi terdahulu. Meletusnya perang disebabkan rasa muak dan benci yang teramat sangat besar kepada perlakuan tidak manusiawi dan bertentangan dengan tata susila yang hidup di tengah-tengah masyarakat pribumi. Maka reaksi dari perasaan muak dan benci itu akhirnya muncul keinginan dan tindakan revolusioner menuntut lepas dari perbudakan, dan perlakuan diskriminatif. 
Jadi mulanya perang itu terjadi tidaklah semata-mata ditujukan ingin mendirikan negara sendiri. Keinginan mendirikan negara adalah harapan terakhir yang tidak dapat dicapai dengan mudah. Hampir 4 abad lamanya negeri ini berada dalam cengkeraman kolonialisme Belanda, perlawanan pejuang pribumi sesungguhnya sudah dimulai sejak lama, namun sayangnya selalu kandas sebab strategi berjuang yang bersifat keadaerahan, kalah jumlah dan terbatasnya persediaan persenjataan. 
Belajar dari pengalaman itulah akhirnya pada generasi Bung Karno diubahlah dan disusunlah strategi perlawanan secara sistematis, terstruktur dan masif dengan mengedepankan prinsip koordinasi lintas daerah-daerah. Lama berkejar-kejaran di rimba dengan dentuman bom dan tembakan tank sebagai hiburan akhirnya kemerdekaan itu dapat juga diraih dan diumumkan pada 17 agustus 1945. 
Kepala yang hancur dan tubuh yang hancur berserakan cukuplah menjadi saksi kegigihan perjuangan menghadiahi anak cucu keturunun generasi berikutnya dengan sebuah kado yang sangat istimewa yaitu bernama "kemerdekaan". Sayangnya pemberian hadiah itu "tidak dihargai" dan malah "ditertawakan" oleh generasi yang lahir masa kini. 
Sebagian telah menjadi generasi tidak pandai bersyukur, tidak tau berterimakasih dan angkuh. Maraknya korupsi adalah bentuk nyata dari penghianatan generasi hari ini. Eksistensi korupsi dalam perspektif perjuangan kemerdekaan hakikatnya adalah penjajah yang menguras keringat rakyat untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kroninya. Pemerintah yang zhalim mengingatkan kita kepada menir dan demang para pejabat hindia Belanda yang bebas berbuat sesukanya.

Tanah rakyat pribumi diambil paksa dan para petani diharuskan menjual hasil pertanian kepada pemerintah kolonial dengan harga murah sehingga membuat rugi para petani. Lelah sepanjang hari mengurus pertanian dan ketika panen raya hanya cucuran air mata yang dapat menjawab tubuh yang kurus dan kulit legam karena lelah bertani di panas terik. Hanya mengelus dada yang bisa dilakukan, jika berani mengkritik maka kritikan itu dianggap sebagai ujaran kebencian, pernyataan permusuhan dan deklarasi perang. Seperti yang dikatakan oleh Sjafruddin Prawiranegara, "diktator zaman dahulu dengan zaman modern sekarang ini tidak ada perbedaan secara prinsipil, letak perbedaannya hanyalah pada metode untuk menjadi diktator".

Untuk menguji kebenaran pendapat ini dapatlah kita ambil sebuah contoh yaitu jika dahulu seperti pada masa kolonial hak kepemilikan tanah dan penjualan hasil pertanian ditentukan sepihak dengan semena-mena oleh pemerintah kolonial, kecuali hanya pengelolaan lahan pertanian yang mungkin diberi sedikit keleluasaan kepada petani pribumi, maka di zaman sekarang ini kediktatoran itu dilakukan dengan cara penggusuran tempat tinggal rakyat miskin tanpa ganti rugi atau penyediaan lahan pengganti.

Atau berupa kebijakan impor ribuan ton beras dari Vietnam dan Thailand menjelang tiba musim panen raya petani yang berdampak banjirnya beras di pasar dan anjloknya harga yang membuat rugi dan memberikan penderitaan kepada para petani. Dengan demikian apa yang terjadi kini benar adanya seperti yang difikirkan Sjafruddin Prawiranegara. Kediktatoran akan selalu ada dan selalu berlindung di balik kebijakan.

Generasi Penghianat Perjuangan