Generasi Penghianat Perjuangan

Generasi Penghianat Perjuangan

 
 Generasi Penghianat Perjuangan
 
Kacau sekali penyelenggaraan negara ini sebab kekuasaan dipegang oleh orang-orang arogan yang sangat curang dalam memperoleh jabatan serta sangat takut kehilangan jabatan. Jabatan dijadikan lumbung kekayaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta. Mereka yang seperti ini sebenarnya adalah maling yang paling nyata, musuh bangsa yang harus diperangi. Sebagian dari para pemuja kekuasaan memilih jalan menjadi penjilat yang bertugas menggembirakan penguasa, mereka menjadi penggembira untuk dapat masuk dalam lingkaran kekuasaan dan untuk memperoleh kekuasaan.

Sementara itu para idealis sejati tokoh-tokoh intelektual dimanapun selalu dikucilkan bahkan tidak diberi ruang untuk berbuat banyak menyumbangkan ide-ide pembaharuan. Mereka didesak ketepi oleh para penjilat dan penyembah kekuasaan sewenang-wenang. Padahal mereka yang dahulu berstatus mahasiswa itu di kampus dia tidak di didik untuk menjadi para penjilat dan tidak dilatih untuk mengadakan ritual penyembahan kepada penguasa tirani yang menindas dan menjadi perampok.
Kisah-kisah heroik dan dramatis tokoh-tokoh perjuangan masa lampau kini tinggal menjadi sebuah dongeng atau legenda belaka, bahkan tragisnya sewaktu-waktu sekedar untuk diperlombakan diatas pentas sebagai hiburan. Seakan tidak berbekas di hati generasi yang lahir belakangan di masa sekarang. Segalanya kini hanya tinggal simbol bahwa dulu bangsa ini pernah bergerilya hebat dengan Belanda dan Jepang, dan perang dimenangkan oleh pejuang kemerdekaan. 
Beratus-ratus ribu pribumi menjadi korban perbudakan dan mati ditembaki dengan brutal oleh serdadu kolonial, darah tumpah dimana-mana. Perjuangan itu dimata kolonial disebut gerakan pemberontakan, ekstrimis dan sikap anti terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sejarah perjuangan kemerdekaan mestinya menjadi renungan mendalam bagi generasi hari ini. Andailah perjuangan itu gagal maka sampai hari ini mungkin kita masih berada dalam wilayah kekuasaan kolonial yang diskriminatif, kejam dan sewenang-wenang. 
Tapi ternyata tuhan menyatakan keberpihakan kepada perjuangan generasi terdahulu. Meletusnya perang disebabkan rasa muak dan benci yang teramat sangat besar kepada perlakuan tidak manusiawi dan bertentangan dengan tata susila yang hidup di tengah-tengah masyarakat pribumi. Maka reaksi dari perasaan muak dan benci itu akhirnya muncul keinginan dan tindakan revolusioner menuntut lepas dari perbudakan, dan perlakuan diskriminatif. 
Jadi mulanya perang itu terjadi tidaklah semata-mata ditujukan ingin mendirikan negara sendiri. Keinginan mendirikan negara adalah harapan terakhir yang tidak dapat dicapai dengan mudah. Hampir 4 abad lamanya negeri ini berada dalam cengkeraman kolonialisme Belanda, perlawanan pejuang pribumi sesungguhnya sudah dimulai sejak lama, namun sayangnya selalu kandas sebab strategi berjuang yang bersifat keadaerahan, kalah jumlah dan terbatasnya persediaan persenjataan. 
Belajar dari pengalaman itulah akhirnya pada generasi Bung Karno diubahlah dan disusunlah strategi perlawanan secara sistematis, terstruktur dan masif dengan mengedepankan prinsip koordinasi lintas daerah-daerah. Lama berkejar-kejaran di rimba dengan dentuman bom dan tembakan tank sebagai hiburan akhirnya kemerdekaan itu dapat juga diraih dan diumumkan pada 17 agustus 1945. 
Kepala yang hancur dan tubuh yang hancur berserakan cukuplah menjadi saksi kegigihan perjuangan menghadiahi anak cucu keturunun generasi berikutnya dengan sebuah kado yang sangat istimewa yaitu bernama "kemerdekaan". Sayangnya pemberian hadiah itu "tidak dihargai" dan malah "ditertawakan" oleh generasi yang lahir masa kini. 
Sebagian telah menjadi generasi tidak pandai bersyukur, tidak tau berterimakasih dan angkuh. Maraknya korupsi adalah bentuk nyata dari penghianatan generasi hari ini. Eksistensi korupsi dalam perspektif perjuangan kemerdekaan hakikatnya adalah penjajah yang menguras keringat rakyat untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kroninya. Pemerintah yang zhalim mengingatkan kita kepada menir dan demang para pejabat hindia Belanda yang bebas berbuat sesukanya.

Tanah rakyat pribumi diambil paksa dan para petani diharuskan menjual hasil pertanian kepada pemerintah kolonial dengan harga murah sehingga membuat rugi para petani. Lelah sepanjang hari mengurus pertanian dan ketika panen raya hanya cucuran air mata yang dapat menjawab tubuh yang kurus dan kulit legam karena lelah bertani di panas terik. Hanya mengelus dada yang bisa dilakukan, jika berani mengkritik maka kritikan itu dianggap sebagai ujaran kebencian, pernyataan permusuhan dan deklarasi perang. Seperti yang dikatakan oleh Sjafruddin Prawiranegara, "diktator zaman dahulu dengan zaman modern sekarang ini tidak ada perbedaan secara prinsipil, letak perbedaannya hanyalah pada metode untuk menjadi diktator".

Untuk menguji kebenaran pendapat ini dapatlah kita ambil sebuah contoh yaitu jika dahulu seperti pada masa kolonial hak kepemilikan tanah dan penjualan hasil pertanian ditentukan sepihak dengan semena-mena oleh pemerintah kolonial, kecuali hanya pengelolaan lahan pertanian yang mungkin diberi sedikit keleluasaan kepada petani pribumi, maka di zaman sekarang ini kediktatoran itu dilakukan dengan cara penggusuran tempat tinggal rakyat miskin tanpa ganti rugi atau penyediaan lahan pengganti.

Atau berupa kebijakan impor ribuan ton beras dari Vietnam dan Thailand menjelang tiba musim panen raya petani yang berdampak banjirnya beras di pasar dan anjloknya harga yang membuat rugi dan memberikan penderitaan kepada para petani. Dengan demikian apa yang terjadi kini benar adanya seperti yang difikirkan Sjafruddin Prawiranegara. Kediktatoran akan selalu ada dan selalu berlindung di balik kebijakan.

Baca selengkapnya »
 nasionalisme kita

nasionalisme kita

 nasionalisme kita
Nasionalisme dimaknai sebagai paham yang menekankan pada arti pentingnya cinta tanah air. Secara historis, pada tahap paling awal kemunculannya, nasionalisme tumbuh sebagai efek dari kolonialisme, dengan kata lain kolonialisme menjadi sebab munculnya nasionalisme. Kemunculannya di tahap permulaan ini ditandai dengan rasa muak, benci dan marah kepada perilaku yang merendahkan harkat dan martabat manusia, perbuatan kolonial yang sewenang-wenang. Lalu lama kelamaan mulai muncul kritik dan pembangkangan kepada kolonialis-kolonialis. Perlawanan semakin tahun semakin nyata di dorong oleh rasa benci dan muak atas penindasan terhadap orang-orang pribumi nusantara. Maka dalam sejarah di berbagai daerah muncul tokoh-tokoh pemberani yang berperang hebat dengan Hindia Belanda semisal di Aceh dengan tokoh-tokohnya yaitu Teuku Umar, Cut Nyak Dien dan Cut Mutia, di Sumatera Barat yaitu Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol, di Sumatera Utara yaitu Sisingamagaraja, di Yogyakarta yaitu Pangeran Diponegoro, di Sulawesi yaitu Ranggong Daeng Romo, La Madukelleng, Pong Tiku dan lain sebagainya.

Diantara mereka ada yang pendek umur perjuangannya diantaranya adalah Pangeran Diponegoro, hanya berumur 5 tahun yaitu 1825-1830. Tetapi meskipun umur perjuangannya pendek sejarah mencatat perlawanan Pangeran Diponegoro mampu membuat Hindia Belanda panik karena membawa dampak yang sangat besar bagi Hindia Belanda, sebab seluruh pelosok pulau Jawa berkobar. Karena itu pula perang ini lebih populer disebut dengan Perang Jawa. Peter Carey dalam karyanya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro” mengatakan segala strategi perang modern diterapkan dalam perang yang dipimpin oleh Diponegoro. Setelah perang usai, penelitian khususnya di Yogya menyebutkan jumlah korban meninggal dunia separuh dari penduduk Yogya. Perlawanan tokoh-tokoh ini selalu gagal untuk menghentikan perbudakan dan perlakuan sewenang-wenang penjajah. Sebabnya adalah perlawanan tersebut bersifat kedaerahan, tidak adanya konsolidasi dan koordinasi antar daerah secara nasional untuk membangun kekuatan perang bersama untuk melawan terlebih-lebih untuk mengusir penjajah. Lalu lambat laun dalam perkembangannya nasionalisme mengalami pergeseran arti dari yang semula merupakan efek dari kolonialisme belaka nasionalisme mulai dimaknai sebagai sebuah paham yang dipandang tidak terpisahkan dari konsep nation state yang mengidealkan persatuan dan kesatuan bangsa yang pluralistik.

Bahwa keberagaman dalam segala aspek dan latar belakang suatu bangsa dipandang sebagai kekayaan kebudayaan yang mesti dijaga, dan dihormati dalam kehidupan komunal yang teratur. Konsep nation state semakin nyaring terdengar manakala founding fathers selama bertahun-tahun terlibat perdebatan hangat tentang ideologi negara. Nation state dianggap oleh mereka yang menamai dirinya golongan nasionalis sebagai konsep kenegaraan yang paling ideal sebab dapat merangkul pluralitas bangsa Indonesia dengan berbagai perbedaan terutama berbeda dalam agama, suku, budaya, dan bahasa. Nation state dipandang dapat menaungi segala perbedaan sosio-kultural sehingga dapat diarahkan untuk tujuan-tujuan nasionalisme seperti mempertahankan kedaulatan politik maupun kedaulatan teritorial.

Dalam praktiknya, dalam konteks perdebatan tentang dasar negara konsep nation state dipilih untuk menolak ide tentang negara agama, atau negara komunis. Melainkan nation state dirumuskan sebagai sebuah konsep pertengahan antara ekstrem kanan (Negara Agama) dan ekstrem kiri (Negara Komunis). Negara yang akan dibangun tidak bertumpu pada agama tertentu semisal berdasarkan syari’at Islam, sebab dipandang tidak cocok untuk latar belakang bangsa kita yang terdiri dari beragam agama. Demikian pula gelombang ekstrem kiri tidak dapat diikuti, negara tidak dapat berdiri dan diselenggarakan diatas pondasi komunisme yang mengingkari keberadaan dan kekuasaan tuhan, serta bertentangan dengan kondisi bangsa Indonesia yang religius yang penduduknya para pemeluk agama dan memiliki kepercayaan terhadap keberadaan dan kekuasaan tuhan. Haji Oemar Said Tjokro Aminoto dalam suatu kesempatan maju kemuka menyampaikan pemikirannya tentang nasionalisme dan agama, beliau mengatakan bahwa “Nasionalisme tidaklah mencampakkan ruh Islam dalam bernegara”. Artinya pesan nasionalisme yang ingin beliau sampaikan bahwa nasionalisme ala Indonesia adalah nasionalisme yang menaungi dan memberikan tempat kepada tumbuh kembangnya agama-agama, yaitu nasionalisme yang memberikan tempat kepada para pemeluk agama untuk menjalankan atau mengamalkan ajaran agamanya.

Jadi bukanlah nasionalisme yang menolak atau merupakan suatu bentuk sikap anti terhadap keberadaan agama. Penolakan terhadap agama hanya dilakukan dalam rangka memisahkannya dengan politik dan dari negara. Demikian pula Bung Karno yang tidak lain adalah murid dari Tjokro Aminoto dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 mengatakan, “jika umat islam ingin agar hukum-hukum Islam dimasukkan kedalam peraturan perundangan maka silahkan kuasai parlemen”. Sebaliknya tentu saja pernyataan Bung Karno ini juga berlaku untuk umat beragama lainnya semisal Kristen ingin agar hukum-hukum injil dimasukkan kedalam hukum nasional maka silahkan kuasai parlemen.

Jadi, yang penting ditekankan disini terutama untuk upaya penyadaran kepada mereka yang menamai dirinya nasionalis atau pejuang nasionalisme adalah bahwa Bung Karno selaku pihak yang paling keras menentang tokoh-tokoh Masyumi demi memperjuangkan nasionalisme tidak melarang jika kelak hukum Islam akan mewarnai sendi-sendi berhukum di negara ini, selama ditempuh melalui prosedur yang sah dan konstitusional. Nasionalisme Bung Karno selaras dengan nasionalisme yang dipahami Tjokro Aminoto, tetapi penting dipahami bahwa baik Bung Karno maupun Tjokro Aminoto keduanya hanya menolak agama dalam hal ini Islam dijadikan dasar atau ideologi negara, selebihnya agama dapat mewarnai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam rangka analisis terhadap tolak tarik antara nasionalisme di satu pihak dan negara berdasarkan agama di lain pihak saya melihat pemikiran kedua tokoh ini tentang nasionalisme malah menggiring mereka kepada suatu suasana berfikir kearah yang membingungkan. Pemikiran Bung Karno tentang nasionalisme di satu pihak cenderung tidak konsisten dan saling kontradiktif.

Inkonsistensi itu misalnya dapat kita baca dari catatan sejarah bahwa Bung Karno sangat keras menentang syari’at Islam dijadikan sebagai dasar negara, bahwa beralasan demi menjaga kemurnian dan kewibawaan agama (Islam) maka agama harus dipisah dari politik dan dari negara. Sementara di satu pihak ia malah mempersilahkan kepada umat Islam jika ingin agar hukum-hukum Islam dimasukkan kedalam hukum nasional maka silahkan kuasai parlemen, demikian juga berlaku kepada umat beragama lainnya. Padahal, hal tersebut dapat berdampak terhadap permutlakan tidak terpisahkannya agama dari politik dan dari negara. Pendapat yang demikian ini semakin mengaburkan pijakan pemikiran Bung Karno dalam membangun argumentasinya.

Ditambah lagi dengan diterimanya prinsip ketuhanan dalam sila pertama dasar negara dan disahkan pada 18 Agustus 1945. Konsekuensi logis dari penerimaan prinsip ketuhanan ini tidak hanya sebatas mengakui keberadaan dan kekuasaan tuhan atau mengakui keberadaan agama-agama, ataupun sekedar saling menghargai antar pemeluk agama. Tetapi secara prinsipil dalam pembentukan kaidah hukum nasional maupun dalam pengambilan suiatu kebijakan publik menjadi suatu keharusan untuk sejauh mungkin selalu mengacu diantaranya kepada asas ketuhanan itu. Dengan demikian akan semakin tidak terhindari diterimanya kaidah hukum yang bernuansakan nilai-nilai keagamaan. Demikian pula seorang pejabat publik yang taat pada agamanya akan senantiasa terdorong oleh ajaran agamanya agar mengamalkan, menterjemahkan ajaran agamanya itu dalam setiap kebijakan yang diambilnya.

Terlepas dari ambiguitas atau kaburnya dasar pijakan golongan nasionalis membangun argumentasinya tersebut, yang terpenting untuk kita pahami dari untaian sejarah panjang perdebatan tentang dasar negara adalah bahwa nasionalisme yang hendak kita bangun dan yang dicita-citakan oleh founding fathers adalah nasionalisme yang tidak menolak intervensi agama kedalam aktivitas politik maupun kedalam aspek-aspek kenegaraan. Melainkan nasionalisme yang ditopang oleh ruh Islam  sebagai agama mayoritas sejak dahulu sampai kini. Bahwa nasionalisme menaungi agama-agama di nusantara serta memberikan tempat kepada para pemeluknya untuk mengamalkan atau menjalankan perintah agamanya dalam aktivitas kehidupan. Dengan demikian justru nasionalisme ala Indonesia adalah nasionalisme yang mengambil agama sebagai kawan kerjasama untuk bersama-sama dalam membangun, mempertahankan dan merawat republik yang bernama Indonesia.

Bukan nasionalisme yang ditancapkan sebagai tiang demarkasi antara negara dan agama, atau antara agama dan politik. Sehingga dengan demikian tidak ada tempat untuk ide sekulerisasi. Sebab menghendaki sekulerisasi itu berarti menghendaki ditiadakannya asas ketuhanan dalam ideologi negara. Jika sudah demikian berarti sekulerisasi justru bertentangan dengan dasar negara itu sendiri, sebab dalam ideologi kita yang kita kenal dengan Pancasila mengakui asas ketuhanan bahkan ditempatkan pada posisi yang prioritas yaitu pada sila yang pertama mendahului asas-asas lainnya. Seperti yang telah disinggung bahwa nasionalisme untuk mengembangkan atau memajukan dirinya memerlukan kerjasama agama. Sehingga benarlah apa yang diucapkan Tjokro Aminoto bahwa, “Nasionalisme tidaklah mencampakkan ruh Islam dalam bernegara”. Karena itu pemahaman generasi kini tentang nasionalisme banyak yang salah kaprah, bahkan dengan literatur yang sangat minim tidak ada yang dapat di dengar. Kebanyakan hanya menyampaikan pendapat yang di dasarkan kepada nafsu untuk membenci kelompok terntu untuk kepentingan yang materialistis.
Baca selengkapnya »
Menggantungkan Keadilan Pilpres Pada Mahkamah Konstitusi

Menggantungkan Keadilan Pilpres Pada Mahkamah Konstitusi

Menggantungkan Keadilan Pilpres Pada Mahkamah Konstitusi
 
Sejak dibentuk pada 17 Agustus 2003, Mahkamah Konstitusi secara formal menjadi tempat mengadu bagi para pencari keadilan. Mahkamah Konstitusi memeriksa, mengadili dan memutus perkara-perkara konstitusional pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final and binding. 
Putusan Mahkamah Konstitusi termasuk jenis putusan pengadilan yang unik dibandingkan dengan putusan pengadilan lainnya, sebab setiap Mahkamah Konstitusi menjatuhkan putusan (vonnis) maka setiap putusannya langsung incraht van gewijsde atau berkekuatan hukum tetap. Berkekuatan hukum tetap maksudnya tidak dapat diganggu gugat. Incraht van gewijsde dalam istilah undang-undang tentang Mahkamah Konstitusi disebut juga final and binding (mengikat). 
Keunikan tersebut di pengadilan lain hanya dapat terjadi pada putusan Mahkamah Agung khusus dalam hal judicial review sifat putusannya sama dengan putusan Mahkamah Konstitusi yaitu final and binding sebab dalam perkara itu Mahkamah Agung pun memeriksa dan memutus pada tingkat pertama dan terakhir. 
I. Latar Belakang Ide Pembentukan Mahkamah Konstitusi 
Secara historis, Mahkamah Konstitusi dibentuk dari adanya keinginan memisahkan upaya mengadili perkara-perkara konstitusional dengan perkara-perkara lain diluar perkara konstitusional. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, tentang kewenangan konstitusional pernah dikemukakan oleh Mohammad Yamin. 
Dalam penyampaian gagasannya tentang badan peradilan pada sidang di Badang Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945 Mohammad Yamin mengatakan perlunya "balai agung" (maksudnya Mahkamah Agung) diberikan kewenangan untuk membanding undang-undang. Membanding maksudnya adalah pengujian undang-undang. 
Gagasan Mohammad Yamin tersebut juga mulanya terinspirasi dari  praktik judicial review oleh Supreme Court (Mahkamah Agung) Amerika Serikat pada tahun 1803 dalam kasus Marbury vs Madison yang sempat menggemparkan dunia peradilan di Amerika Serikat. Sebab Supreme Court berdasarkan konstitusi Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan menguji undang-undang negara bagian. 
Perjalanan sejarah akhirnya menerima praktik tersebut sebagai kebiasaan yang tumbuh dan terpelihara dalam praktik ketatanegaraan. Adapun tentang kewenangan judicial review tersebut dalam konstitusi Indonesia pasca amandemen keempat tahun 2002 ditentukan menjadi salah satu diantara kewenangan Mahkamah Konstitusi, bukan Mahkamah Agung. Tidak hanya judicial review, Mahkamah Konstitusi juga memiliki kewenangan konstitusional lainnya.
Kewenangan yang dimaksud adalah sebagaimana termaktub dalam Pasal 24C UUD 1945, bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 
II. Menguji Integritas hakim Mahkamah Konstitusi
Sampai saat ini masih banyak pihak cenderung meragukan keseriusan, keseungguhan (integritas) hakim Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa dan memutus perkara terutama perkara yang sarat kepentingan yaitu perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Keraguan atau kekhawatiran banyak orang tersebut bukan tidak beralasan sebab mengingat pengisian jabatan hakim Mahkamah Konstitusi juga atas peran besar pemerintah. 
Apalagi pemerintah dalam sengketa Pilpres adalah petahana sebagai pihak terkait dalam perkara yang sarat kepentingan tersebut. Pengisian jabatan hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah jelas diatur dalam UUD 1945 yaitu 3 orang diusulkan oleh Presiden, 3 orang diusulkan oleh DPR dan 3 orang diusulkan oleh Mahkamah Agung. Jika diusulkan oleh Mahkamah Agung saya fikir kekhawatiran itu lebih kecil ketimbang diusulkan oleh Presiden dan DPR. 
Sebab dua lembaga ini (Presiden dan DPR) adalah lembaga politik yang sarat dengan kepentingan belaka. Demikian pula bahwa Mahkamah Konstitusi sempat membuat gempar dunia peradilan karena salah satu tiangnya (hakim_nya) patah terhempas akibat ulah Akil Mochtar yang ditangkap tangan oleh KPK dalam kasus penyuapan. Padahal Mahkamah Konstitusi di republik ini usianya masih sangat belia yaitu baru berusia sekitar 16 tahun tapi langsung dihadapkan kepada ujian sejarah yang berat yang menjatuhkan citranya sebagai lembaga penegak hukum dan keadilan. 
Perkara pidana yang melibatkan hakim dalam praktik "jual beli hukum, atau tawar menawar pasal dan hukuman" atau dalam bahasa undang-undang disebut penyuapan memang banyak terjadi di badan peradilan dalam lingkup Mahkamah Agung, tapi ternyata "virus" itu dapat berpindah dengan mudah ke Mahkamah Konstitusi. Memang yang ditangkap atau yang bermasalah hanyalah Akil Mochtar, tapi efeknya berimbas kepada institusi Mahkamah Konstitusi. 
Karena itu dalam perjalanan sejarah yang masih sangat belia ini integritas hakim Mahkamah Konstitusi telah mengalami kecacatan atau terkotori oleh perilaku hakim yang tidak jujur, mengingkari amanah, tidak kuasa menahan diri dari godaan materi memanfaatkan jabatan sebagai fasilitas untuk memperoleh kekayaan. Semoga kejadian memalukan seperti ini tidak terulang di masa kini dan di masa-masa yang akan datang. Marwah atau martabat hakim Mahkamah Konstitusi adalah cerminan dari marwah atau martabat Mahkamah Konstitusi. Sebab itu hakim Mahkamah Konstitusi harus betul-betul menjiwai, memahami bahwa dirinya adalah "wakil tuhan" di muka bumi, ditangannya lah keadilan itu diuji dalam putusannyalah keadilan itu dituangkan.
III. Berjiwa Besar Menerima Putusan Mahkamah Konstitusi
Apapun putusan Mahkamah Konstitusi haruslah dipatuhi oleh segenap para pihak yang berperkara dengan jiwa besar, sebab apapun putusan itu secara hukum haruslah dipandang sebagai putusan yang benar dan adil. Betapapun tidak ada putusan yang dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak. Haruslah dipahami bahwa putusan hakim bukanlah dimaksudkan untuk memuaskan para pihak, tidak dimaksudkan memberikan kabar gembira atau kabar buruk tetapi merupakan pemutus belaka dari masalah. 
Praktik selama ini jika putusan itu dianggap menguntungkan pemohon maka putusan itupun dipuji, sebaliknya jika dianggap merugikan putusan itupun dikesalkan. Sebagaimana yang sering kita dengar, pihak yang "kalah" selalu menganggap putusan hakim tidak adil, sementara pihak yang "menang" atau yang merasa diuntungkan dengan nyaring mengatakan bahwa putusan hakim telah benar dan adil, hakim bijak dalam menjatuhkan putusan dan lain sebagainya.
Tanpa mengurangi arti pentingnya menghormati, menerima dan mematuhi putusan pengadilan, khusus untuk putusan Mahkamah Konstitusi penting sekali ditekankan disini agar dipatuhi oleh para pihak yang berperkara. Sebab tidak hanya putusannya yang unik seperti telah dikemukakan diatas, tapi juga disebabkan putusan Mahkamah Konstitusi tidak ada eksekutornya. Beda dengan putusan pidana misalnya, yang bertindak sebagai eksekutor adalah jaksa penuntut umum. Atau dalam perkara perdata dan perkara tata usaha negara pengadilan masih dapat melibatkan atau meminta bantuan kejaksaan dan kepolisian. 
Tetapi untuk perkara konstitusional yang diadili Mahkamah Konstitusi tidak ada eksekutor atau pihak yang ditugaskan sebagai yang melaksanakan isi putusan. Karena itu pentaatan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi diserahkan sepenuhnya kepada kesadaran hukum warganegara atau para pihak yang berperkara. Taat hukum lah yang ditekankan pada putusan Mahkamah Konstitusi, jika pemerintah tidak mau melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi maka akan dipandang sebagai pemerintah yang tidak taat hukum, pemerintah saja tidak taat hukum bagaimana rakyat bisa percaya dan seterusnya. 
Jangan ketika putusan itu dirasakan menguntungkan pemerintah baru mau mematuhinya tetapi jika dianggap merugikan tidak mau mematuhinya. Saya fikir itu tidak baik bagi berbangsa dan bernegara yang benar. Utamanya pemerintah harus tunjukkan bahwa hukum adalah mekanisme menyelesaikan masalah secara aman, adil dan bermartabat di negeri ini dan apapun putusan Mahkamah Konstitusi para pihak harus mentaatinya dengan berjiwa besar untuk kemaslahatan bangsa dan negara ini.
Baca selengkapnya »
Perihal Keterangan Ahli Dalam Perkara Tindak Pidana Pemilu

Perihal Keterangan Ahli Dalam Perkara Tindak Pidana Pemilu

Perihal Keterangan Ahli Dalam Perkara Tindak Pidana Pemilu



Beragam dinamika dalam masa kampanye pemilihan umum khususnya penanganan suatu perkara yang sudah mulai mengarah pada upaya pro yusticia semakin menarik untuk dibicarakan. Semakin banyak muncul "masalah" semakin banyak pula yang dapat dituangkan dalam tulisan. Penulis itu pemikir, sebab menulis itu aktifitas berfikir, menganalisa, menghindari penyembahan/ketundukan kepada arogansi dan pemikiran picik baik yang dimunculkan oleh peraturan ataupun yang disemburkan melalui kebijakan.

Tulisan ini bermaksud sebagai respon semangat intelektualitas seorang intelektual terhadap proses penanganan dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu yang sedang ditangani oleh sentra penegakan hukum terpadu atau Gakkumdu Kabupaten Kampar. Tulisan ini merujuk kepada proses beracara pidana menurut KUHAP, sebab memang hukum formil yang digunakan oleh Gakkumdu adalah KUHAP.

Peraturan Bawaslu Nomor 9 Tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu pada Bagian Ketujuh tentang Penuntutan Pasal 28 masih terdapat kekurangan. Mestinya ditambahkan satu ayat lagi yaitu ayat (6) yang berisi penegasan bahwa proses pemeriksaan dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu di Pengadilan Negeri dilakukan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Ahli itu menurut disiplin bidang keilmuan sangat banyak seperti ahli di bidang Hukum Pidana, ahli di bidang Hukum Tata Negara, ahli di bidang bahan-bahan Kimia tertentu, ahli bedah, ahli organ dalam tubuh seperti ahli jantung, ahli paru-paru dan lain sebagainya. Demikian juga dengan apa yang diatur di dalam KUHAP.

Dalam KUHAP pengaturan tentang keterangan ahli terlalu ringkas dan sangat sumir, sehingga tidak ada acuan yang jelas dan konkret tentang kriteria atau kualifikasi ahli. Ahli memberikan keterangan berdasarkan keahliannya dalam bidang ilmu yang ditekuninya. Sementara bidang ilmu atau disiplin ilmu itu ada banyak jumlahnya dan bercabang-cabang.  

Dalam hukum saja misalnya, hukum itu dibedakan lagi kedalam Hukum Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Perdata, Hukum Bisnis, Hukum Internasional. Demikian juga dalam flsafat, dikenal ada pula Filsafat Ilmu, Filsafat Ketuhanan, Filsafat Umum dan lain sebagainya. Apalagi di bidang fisika dan kimia tentu lebih banyak lagi pembidangan-pembidangan. Karena itu dalam konteks peradilan pidana seorang ahli hanya akan diminta keterangannya baik dalam pemeriksaan penyidikan maupun pemeriksaan persidangan berdasarkan bidang keilmuannya terkait dengan tindak pidana yang sedang terjadi.

I. Kriteria Seorang Ahli.

Pasal 1 angka 28 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) hanya mengatur bahwa keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang  yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

KUHAP tidak mengatur kriteria konkret seseorang yang dapat ditunjuk atau dimintai keterangan sebagai ahli baik untuk hal yang diperlukan dalam pemeriksaan penyidikan maupun dalam pemeriksaan persidangan. Oleh karena KUHAP tidak mengaturnya, maka dalam praktik tumbuh kebiasaan dalam penegakan hukum bahwa mengenai hal itu diserahkan sepenuhnya kepada para pihak yang berperkara untuk menghadirkan seseorang sebagai ahli guna diminta keterangannya. 

Kendatipun demikian, dalam pemeriksaan persidangan hakim berperan penting memberikan penilaian bahwa seseorang layak atau tidaknya di dengar keterangannya sebagai ahli. Peran ahli melalui keterangannya sangat penting bagi hakim, bahkan keterangan ahli dapat berpengaruh terhadap putusan yang akan diambil. Walaupun dalam hukum pembuktian keterangan ahli sebagai alat bukti bernilai sebagai alat bukti bebas, artinya hakim tidak terikat kepada keterangan ahli.

II. Nilai Pembuktian Keterangan Ahli

Suatu keterangan dapat bernilai sebagai keterangan ahli jika keterangan yang disampaikan itu murni berdasarkan bidang keilmuan yang ditekuninya, di dukung oleh dalil-dalil ilmiah dan kerangka teoritis yang jelas dan relevan dengan perkara yang sedang diperiksa. Selain itu keterangan yang diberikan itu harus lepas dari unsur subjektifitas atau partial (memihak) secara subjektif kepada salah satu pihak yang berperkara. Keterangan yang diberikan diluar pemeriksaan persidangan tidak bernilai sebagai keterangan ahli. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 186 KUHAP yaitu, "keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan". 

Tetapi jika ahli tidak dapat hadir dalam persidangan maka pendapat atau keterangan ahli dapat dituangkan dalam bentuk tertulis. Secara yuridis keterangan seperti ini disebut Visum et Repertum. Hanya harus dipahami bahwa keterangan yang diberikan secara tertulis nilai keterangannya lemah tidak seperti ketika ahli datang dan di dengar keterangannya secara langsung di persidangan. Mengapa lemah sebab dapat berdampak pada keyakinan hakim. 

Seorang ahli dengan kehadirannya di muka hakim, hakim menjadi lebih yakin bahwa keterangan itu memang murni diberikan oleh ahli berdasarkan bidang keilmuannya serta hakim dapat leluasa berinteraksi langsung dengan ahli jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan lebih komprehensif supaya perkara yang sedang diperiksa menjadi terang adanya. 

Keyakinan hakim sangat penting dalam menentukan ke arah mana suatu perkara yang sedang diperiksa itu akan diputuskan. Bahkan Pasal 183 KUHAP menegaskan, "Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya". Dengan demikian, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan hakim dalam menjatuhkan putusan yaitu:

1. Minimal pembuktian yaitu sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. Keabsahan suatu alat bukti akan ditentukan dalam pemeriksaan persidangan pengadilan. Jika alat bukti berupa keterangan ahli maka sebelum ahli diminta keterangannya maka hakim akan menanyakan identitas, latar belakang pendidikannya serta bidang ilmu yang ditekuninya untuk memastikan bahwa seseorang benar-benar qualified untuk di dengar keteranganya sebagai ahli. Adapun mengenai alat bukti seperti mana termaktub dalam Pasal 184 KUHAP yaitu: 
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.

2. Keyakinan hakim

Karena itulah mengapa keyakinan hakim itu sangat penting dan menentukan putusan yang akan diambil. Kayakinan hakim tidak hanya diperoleh atau muncul dalam diri hakim berdasarkan hasil mendengarkan keterangan ahli, tapi juga dari hasil pemeriksaan alat bukti lainnya seperti diatur dalam Pasal 184 KUHAP.

3. Kesalahan Terdakwa

Untuk menentukan seorang terdakwa bersalah atau tidaknya tergantung kepada hasil pemeriksaan dan pembuktian dalam persidangan, dan hakimlah yang menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa. Jika pelakunya subjek hukum natural person/naturlikj persoon yaitu manusia maka selalu mengacu kepada asas geen straf zonder schuld yang artinya tiada pidana (hukuman) tanpa kesalahan untuk menentukan mensrea dari suatu reus actus yang dilakukan terdakwa. Dan kesalahan itu ada yang berupa dolus (kesengajaan) dan ada yang berupa culpa atau kelalaian/kecerobohan. Dolus dan culpa juga sangat menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan hakim kepada terdakwa.

Tapi jika terdakwa adalah recht person yaitu subjek hukum bukan manusia seperti korporasi atau badan hukum maka untuk menentukan kesalahan atau mensrea berkembang beberapa teori yaitu:
1. strict liability;
2. vicarious liability;
3. identifikasi;
4. agregasi;
5. Gabungan.

Strict liability/pertanggung jawaban langsung dan vicarious liability/pertanggung jawaban pengganti adalah bentuk penyimpangan terhadap asas geen straft zonder schuld, menganggap korporasi tidak mempunyai kesalahan. Mengenai syarat penjatuhan putusan pemidanaan ini, undang-undang kekuasaan kehakiman merumuskan dengan redaksi yang berbeda dari apa yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, dan ada syarat lain yang harus diperhatikan oleh hakim.  

Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa, "Tidak seorangpun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya".

Point yang ditambahkan sebagai syarat adalah.. " seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab...". Ini penting bahwa tidak semua orang dapat dipidana meskipun syarat minimal pembuktian telah terpenuhi dan hakim telah memperoleh keyakinan bahwa terdakwa berdasarkan hasil pemeriksaan dan pembuktian persidangan telah bersalah melakuan perbuatan pidana yang didakwakan atas dirinya. 

Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa klasifikasi orang yang dikecualikan dari menanggung beban pertanggungjawaban pidana, yaitu orang yang terganggu jiwanya, ingatannya atau lazim disebut gila dan semacamnya, anak-anak, orang tua renta yang sudah pikun. Mereka dianggap tidak cakap dan tidak mungkin dapat bertanggung jawab atau diminta pertanggung jawaban pidana atas suatu tindak pidana yang dilakukannya. 

III. Kualifikasi Ahli

Mengingat KUHAP tidak mengatur secara konkret tentang orang yang dapat diminta keterangan sebagai ahli, maka dalam praktek telah berkembang suatu kebiasaan yang tumbuh dan terpelihara dalam praktek peradilan. Kebiasaan yang demikian itu dalam ilmu hukum berlaku sebagai sumber hukum, ia tidak ubahnya seperti undang-undang. Bahwa dalam perspektif ilmu hukum, sumber hukum itu tidak hanya undang-undang atau peraturan perundang-undangan, tetapi juga dikenal yurisprudensi, traktat, doktrin dan konvensi atau kebiasaan. Menurut kebiasaan yang tumbuh dan terpelihara dalam praktik peradilan bahwa kualifikasi ahli itu diantaranya meliputi:

1. Sekurang-kurangnya bergelar Magister dalam bidang yang ditekuninya dengan strata pendidikan linear. Misalnya S1 nya Hukum Pidana, maka S2 nya pun juga mengambil bidang Hukum Pidana.

2. Telah pernah diminta keterangannya sebagai ahli dalam strata pendidikan sekurang-kurangnya bergelar Magister atau dianggap cakap dan kualitas keilmuannya diakui.

3. Berpengalaman mengajar atau berprofesi sebagai dosen selama beberapa tahun minimal 2 sampai 5 tahun mengajar bidang ilmu yang ditekuni.

4. Tidak memiliki kepentingan atau lepas dari kepentingan para pihak, termasuk tidak berafiliasi dalam suatu hubungan kerja dengan para pihak serta tidak memiliki pertalian darah dengan para pihak. Hal itu penting untuk menjamin bahwa keterangan yang diberikan ahli memang murni berdasarkan keahliannya pada disiplin ilmu yang ditekuninya.

Terkait dengan penanganan dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu oleh Gakkumdu Kabupaten Kampar, saya memperhatikan dengan seksama dan hati-hati bagaimana proses atau tata cara yang ditempuh oleh Gakkumdu. Ada beberapa catatan saya yang perlu dikemukakan sebagai respon intelektual dan sumbangsih pemikiran, yaitu hasil kajian Gakkumdu yang buntu tidak tercapai kesepakatan sebab adanya persepsi-persepsi yang berbeda antara unsur Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan yang tergabung dalam Gakkumdu tentang dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu.

Akibat belum ada kesatuan pemahaman itu maka Bawaslu sebagai unsur yang tergabung dalam Gakkumdu menawarkan usul untuk melakukan koordinasi konsultasi atau kunjungan kepada Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran (Kordiv PP) Bawaslu Provinsi Riau. Dan usul itu diterima secara aklamasi tanpa ada usul lainnya. Itu yang Pertama, dan yang Kedua, unsur Bawaslu yang tergabung dalam Gakkumdu mengusulkan untuk menjumpai pihak Komisi Pemilihan Umum Provinsi Riau guna diminta keterangannya sebagai ahli untuk menjelaskan soal ada atau tidak adanya pelanggaran tindak pidana pemilu.

Cara-cara seperti ini menurut saya tidak bijak, keduanya terkesan seakan egois dan Gakkumdu seakan tidak memahami proses beracara di pengadilan. Saya melihat Gakkumdu belum begitu memahami tentang hakikat keberadaan dirinya sendiri. Harus dipahami bahwa Gakkumdu itu tidak hanya dari unsur Bawaslu, tapi juga terdiri dari unsur Kepolisian dan Kejaksaan. Karena itu tidak relevan upaya pro justicia untuk di konsultasikan dengan Kordiv PP Bawaslu Provinsi Riau. Sah-sah saja jika cara itu dilakukan tetapi hendaknya tidak atas nama Gakkumdu, tetapi atas nama Bawaslu Kabupaten Kampar.

Sebab konsultasi, kunjungan atau apapunlah namanya, itu sepihak Bawaslu. Dan hasil konsultasi itu hanya akan melahirkan pendapat sepihak Bawaslu, bukan pendapat Gakkumdu. Akan lebih baik andai konsultasi ke Kordiv PP Bawaslu Provinsi Riau tetap juga ingin dilakukan tetapi konsultasi itu mesti dilakukan juga ke institusi Kepolisian dan Kejaksaan. Itu baru proporsional (berimbang), dan konsultasi itu akan menghasilkan pendapat konkret Gakkumdu, bukan pendapat sepihak Bawaslu. Jika hanya pendapat sepihak Bawaslu maka kualitas hasil kunjungan atau konsultasi itu nyata bersifat subjektif belaka.

Yang kedua, terkait dengan keterangan ahli, orang yang diminta keterangannya atau pendapatnya sebagai ahli tidak boleh berafiliasi dengan penyelenggara pemilu. Kita sama-sama pahamlah saya fikir bahwa Bawaslu ingin agar ada kasus pelanggaran tindak pidana pemilu bisa sampai ke pengadilan, lalu kita disorot Bawaslu Provinsi dan kalau bisa inginnya dijadikan percontohan oleh Bawaslu kabupaten lainnya di Riau. Saya fikir semangat seperti ini perlu kita kobarkan bersama dan nantinya tentu kita mengharapkan akan ada apresiasi dari Bawaslu Provinsi Riau.

Tetapi Bawaslu mesti memikirkan jauh kedepan, yaitu andai perkara ini sampai ke pengadilan lalu mentah dengan putusan bebas (vrijspraak), Bawaslu hanya akan merasakan lelahnya saja menangani perkara ini sampai sejauh itu. Kita tahu bahwa vrijspraak tidak dapat dilakukan upaya hukum banding, dan berlakulah asas nebis in idem bahwa orang yang sama tidak dapat diadili dalam perkara yang sama untuk kedua kalinya. Vrijspraak terjadi karena dakwaan jaksa penuntut umum tidak terbukti atau tidak cukup terbukti.

Hal itu dapat disebabkan bahwa alat bukti tidak qualified, tidak bernilai sebagai alat bukti yang sah sehingga minimal pembuktian tidak terpenuhi. Seperti keterangan ahli, belum hakim mendengar keterangan ahli, ahli akan ditanya terlebih dahulu oleh hakim tentang latar belakang pendidikan, maupun profesinya untuk menentukan layak tidaknya ia menjadi ahli.

Jika ahli yang dihadirkan tidak qualified misalnya berafiliasi dengan penyelenggara pemilu apalagi sebagai penyelenggara pemilu seperti pejabat struktural dalam kepengurusan Komisi Pemilihan Umum maka jelas orang yang seperti itu tidak layak di dengar keterangannya sebagai ahli. Sebab dikhawatirkan atau diragukan objektifitas keterangannya, sebab dirinya sendiri sebagai pihak yang berkepentingan dalam penyelenggaraan pemilihan umum. Hal ini tentu akan sangat merugikan Bawaslu sebagai pihak dalam Gakkumdu yang memprakrasai menghadirkan ahli yang berafiliasi dengan penyelenggara pemilu di pengadilan.

Andai ahli tidak dihadirkan di persidangan pengadilan pun, yaitu hanya dengan mengajukan visum et repertum Bawaslu juga akan dirugikan, sebab ahli yang memberikan keterengan secara langsung di persidangan akan berbeda nilai pembuktiannya sebagai alat bukti dibandingkan dengan jaksa penuntut umum hanya membacakan visum et repertum. Seperti telah dijelaskan dimuka, hal itu akan berdampak pada keyakinan hakim dalam menilai dan menjatuhkan putusan. Dari gerbong suara intelektual ini saya hanya hendak menyampaikan aspirasi dan spirit law enforcement agar Bawaslu bijak menangani persoalan seperti ini sehingga ada kewibawaan kita dalam berbangsa dan bernegara yang benar
Baca selengkapnya »
Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!

Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!

Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum
Kemelut pertengkaran kita dalam bidang hukum termasuk dalam penegakan hukum tiada lain mengharuskan adanya upaya nyata yang berani dan radikal untuk membenahi semua kebobrokan yang bertahan selama ini. Tindakan ini disadari memang merupakan hal yang berbahaya karena itu tidak tertutup kemungkinan akan jatuhnya korban, sekaligus ide ini adalah misi pengabdian dan pengorbanan kepada nusa dan bangsa. 

Sebelum diketengahkan bagaimana revolusi itu berjalan dan sasaran apa yang hendak dicapai, misi ini berbahaya. Mengapa dikatakan demikian, sebab akan membuat negeri ini berguncang hebat menghadapi orang-orang yang selama ini telah terlanjur merasa nyaman, aman dan tentram dalam sistem dan kondisi hukum yang buruk. Musuh-musuh bangsa dan negara akan keluar melakukan serangan balasan yang mengancam nyawa dan kehormatan seseorang. 

Para mafia, bibit-bibit koruptor yang belum tersemai dan tumbuh menjadi koruptor, para elit bermental tamak dan bekepribadian rusak, investor asing yang selama ini merasa memiliki kekayaan bumi negeri ini, terusiknya negara-negara barat penjajah kekayaan bumi negeri ini, orang-orang sekuler-liberal-komunis mereka akan keluar sarang dan masuk mengacak-mengacak arena pertandingan hidup mati sampai titik darah penghabisan. Sebagian mereka memantau disuatu tempat sambil menunggu momen tepuk tangan dan tertawa lepas menikmati kekalahan jiwa-jiwa revolusioner yang berani. 

Sebetulnya para mafia hukum, dan orang-orang yang menurut penilaian dan keyakinan publik adalah perusak bangsa itu telah sejak lama melakukan perlawanan dan menyatakan perang, walaupun kebanyakan sampai saat ini masih mengambil bentuk perang dingin agar tidak terlalu kentara dalam penglihatan orang. Sering kita dengar dan saksikan di media, jika si A keras mengkritik soal korupsi maka tak lama setelahnya diapun menjadi pasien lembaga penegak hukum. Andaipun tidak terbukti, tetapi proses peradilan terutama pemeriksaannya di lembaga penegak hukum sudah cukup untuk merobohkan kehormatan dan nama baiknya dimata publik. Pengrusakan kehormatan dan nama baik itu lebih menyakitkan daripada  seseorang hanya sekedar menjalani hukuman di penjara. 

Perlawanan para mafia tidak tanggung-tanggung, misalnya tokoh-tokoh petinggi penegak hukum dalam generasi yang berbeda seperti mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibid Samad Rianto, Chandra.M Hamzah, Antasari Azhar, Bambang Widjayanto, Abraham Samad termasuk pula Jenderal Polisi Susno Duadji sulit rasanya dipercaya jika mereka ini bukan korban dari kebringasan para mafia hukum pendamba negara hukum porak-poranda. Semakin barani aparat penegak hukum yang masih waras dan sehat akalnya untuk memberangus di muka bumi negeri ini koruptor maka perlawananpun semakin kuat dan berat. 

Terbukti dengan terdepaknya aparat penegak hukum itu dari jabatannya yang terhormat lagi mulia. Ini semua menandakan bahwa pekerjaan menegakkan hukum ini sangat beresiko. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana resiko itu telah mengajarkan kepada kita bahwa keseriusan dalam mengurus penegakan hukum itu telah membuat rusak bahkan mungkin buta sebelah mata Novel Baswedan, setelah ia disiram air keras dari antek-antek penjahat hukum di republik ini. Tidak hanya teror mental tapi juga teror fisik membuatnya kehilangan jabatan sebagai komisoner Komisi Pemberntasan Korupsi tapi juga menyisakan kecacatan pada dirinya. 

Belakangan ini ketika tulisan ini ditulis (04 Februari 2019) telah kita terima berita duka bahwa dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dianiaya dan mengalami luka cukup parah dalam menjalankan tugasnya yang suci itu. Entah berapa banyak lagi kasus  seperti ini akan terulang seakan para mafia tidak kenal lelah dan bahkan menikmati perburuannya oleh aparat penegak hukum. Semua kasus seperti ini semisal kita ambil kasus Jenderal Polisi Susno Duadji terhadap keberaniannya membongkar korupsi simulator Surat Izin Mengemudi di institusinya dan Novel Baswedan sebagai komisioner KPK yang telah menunjukkan integritasnya dan keberaniannya menegakkan hukum sampai sekarang tidak jelas kasusnya. 

Lalu dimana peran Presiden?, sampai kinipun tidak kita lihat ada langkah nyata yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi eksekutif itu. Selain karena sebagian elit yang tidak tau malu telah saling melindungi satu dengan yang lain melalui kelembutan cara bicara dalam meyakinkan Presiden bahwa tidak terjadi apa-apa, dan sekiranya ada masalah Presiden tidak perlu turun tangan biarlah aparat penegak hukum yang melaksanakan tugasnya sesuai amanat undang-undang. Juga disebabkan bahwa para mafia telah merajalela dalam istana yang telah bersayap-sayap lebar menjalar kemana-mana kesetiap sudut ruangan, mengendalikan ruang percakapan publik di media pertelevisian, di media sosial dan juga berhasil mengambil peranan terhadap kebijakan yang diambil oleh pejabat negara. 

Ketika misalnya sedang hangat-hangatnya pembicaraan publik bahwa ada keteribatan dan peran aktif Wiranto dalam tragedi berdarah pelanggaran HAM pada 1998, lalu tiba-tiba saja Wiranto telah diangkat menjadi Menkopolhukam. Seakan berlindung dibawah kekuasaan dengan menjadi penguasa dibawah Presiden sehingga posisinya seakan tidak lagi tersentuh oleh aparat penegak hukum. Ini sangat menggelikan. 

Seakan sejarah sedang bercakap-cakap kepada kita dengan nada cemas dan penuh prasangka, "tugas membenahi hukum dan penegakan hukum di negeri ini sangatlah berat dan merupakan petualangan yang berbahaya, kehati-hatian tidak berguna, hanya iman kepada tuhan serta perbanyak ibadah yang harus dilakukan supaya kelak tiba masanya peluru menembus kepala syahidlah hendaknya yaitu meninggalkan dunia yang keji penuh dosa ini dengan sebaik-baik kematian menghadap Tuhan yang maha esa".

*Menuntaskan Tugas Mulia

"Tugas mulia tidak mudah, jika mudah bukanlah sepatutnya ia sebagai tugas mulia".

Sebagaimana gencarnya para maling uang rakyat dan para mafia menggasak kekayaan bumi dan bangga merampas kebahagiaan dari raut wajah rakyat, begitupun semangat penegakan hukum tetap menyala dan berkobar hebat dari para penegak hukum moralis yaitu orang-orang waras dan berakal sehat tidak akan menyerah kalah dalam memerangi para penghianat dan penjajah negeri. Langkah yang kita lakukan dalam perang dengan para mafia selama ini baru dalam tataran penegak hukum, walaupun telah berjatuhan korban tetapi kita butuh perlawanan yang lebih hebat dan perkasa daripada yang sudah-sudah untuk mengakhiri semua ini. 

Kali ini perlu ada sikap tegas dan keras dari seorang kepala negara untuk mengatasi kekacauan berlarut-larut selama ini. Seorang Presiden yang gagah perkasa lagi berani berhadapan di medan laga bertarung habis-habisan dengan para munafik, penghianat dan penjajah negeri ini. Sebagai sebuah negara, kita tidak sendirian dalam mengambil sikap berani itu. Kita masih ingat bagaimana mantan pemimpin Kuba Fidel Alejandro Castro Ruz dengan gagah berani menantang hegemoni barat yang ingin merampas kesejahteraan negerinya, yang bernafsu merampas senyum bahagia di wajah rakyatnya, sejarah telah mencatat untuk keberanian dan kelancangan Fidel Castro ia mengalami lebih dari 500 kali percobaan pembunuhan. 

Atau bagaimana pahit getirnya perjuangan mantan Presiden Venezuela Hugo Chaves Friaz harus merelakan nyawanya sebagai imbalan atas perjuangannya mengangkat wibawa negerinya dan mempertahankan senyum penuh kebahagiaan di wajah rakyatnya. Hingga kematiannya di dengar rakyatnya, hujan air mata turun deras seolah langit turut diliputi duka mendalam kepergian sang pahlawan bangsa dambaan jutaan manusia menghadap tuhannya. Meski Amerika berkali kali menyebarkan propaganda yang berisi fitnah beracun berharap agar sang pemimpin dibenci rakyatnya sendiri, hingga terbayang ia akan di desak oleh rakyatnya melepaskan jabatannya, tapi rupanya rakyat telah teramat mencintainya sehingga tidak seorangpun mampu memisahkan cinta mendalam yang  terbangun antara rakyat dan pemimpinnya itu. Demikianlah Chaves menghembuskan nafas terakhirnya ditangan kasar antek-antek Amerika laknatullah.

*Revolusi Hukum, Sekali Lagi Revolusi Hukum!!!

Perjuangan yang tidak berkesudahan ini sudah saatnya diakhiri. Kita cuma butuh dua hal, yaitu pertama, Kepala Negara yang berani dan siap menghadapi semua resiko. Dan yang kedua, mengorganisir sekuat mungkin basis pergerakan atau mengkonsolidasikan kekuatan dari orang-orang yang terpercaya, cerdas, serius dan berani serta siap menghadapi perang melawan para mafia hukum yang bersarang dibanyak institusi di negeri ini. 

Setelah ini, maka revolusi undang-undang secara radikal menuju pembaharuan konkret yang berkeadilan yang selama ini masih menggantung di langit-langit sebagai sebuah utopia. Tampung semua aspirasi rakyat, lalu libatkan para ahli merumuskannya dan akhiri dengan bergerak cepat tanpa tawar menawar. Revolusi undang-undang segala bidang kehidupan terutama di bidang penegakan hukum, politik, sosial, budaya, agama, pendidikan dan kesejahteraan. 

Revolusi ini juga berdampak pada penyegaran fungsi lembaga-lembaga negara menjadi lebih stabil dan kuat baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Setelah itu revolusi birokrasi secara besar-besaran, buang orang-orang yang tidak patut apalagi mereka sampai berkuasa dalam suatu birokrasi itu. Sebab keberadaan mereka hanya merusak, tidak berfaedah. Revolusi undang-undang dan revolusi birokrasi dilakukan dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang hidup ditengah masyarakat di daerah-daerah. 

Setelah itu pula ambil kebijakan nyata dan tegas lakukan revolusi perekonomian dan pengelolaan sumber daya alam. Indonesia harus bebas hutang, harus berhenti di dikte asing terutama Amerika dan antek-anteknya yang telah sejak lama menghisap kekayaan bumi ini dengan brutal. Negeri ini harus menjadi negeri swasembada pangan, harus menjadi negeri produsen minyak, harus menjadi negara pengekspor pangan dan hasil kekayaan alam bukan negara hobi impor. 

Dan terakhir, setelah ekonomi kita kuat, politik dan kedaulatan kita tidak bisa di dikte, setelah kita mampu berdiri diatas kaki sendiri dirumah milik kita, maka terakhir kita harus tegas dalam diplomasi apapun khususnya yang menyangkut perdamaian dan pelanggaran hak asasi manusia. Kita tidak boleh lemah dan menundukkan kepala kepada Myanmar, Israel, China, Amerika. Mereka telah berkontribusi besar dalam menciptakan kerusuhan internasional, pembiaran pelanggaran hak asasi manusia, telah berperan besar menjadikan banyak negara berketergantungan kepada hutang. 

Berat bukan semua tugas tugas ini??, semua ini tidak ubahnya utopia. Entah utopia itu abadi atau tidak di negeri ini. Tapi untuk melakukan semua itu kita dapat banyak belajar dari Venezuela, Kuba, Turki yang telah meruntuhkan keramat pesimisme itu. Juga Brunei Darussalam bahkan Malaysia sekalipun yang sedang berjuang untuk kedaulatannya kita dapat mengambil pelajaran. Jadi Revolusi Hukum, Sekali lagi Revolusi Hukum!!! Hanya itu cara membenahi negeri yang telah usang oleh tangan-tangan jahil tidak bertanggung jawab.
Baca selengkapnya »